7 Tradisi Jepang yang berkaitan dengan seks dan makna di baliknya


1. Honen Matsuri

Sekilasnews.com - Jepang memiliki begitu banyak tradisi unik. Mungkin bahkan tabu jika dilihat dari sudut pandang budaya lain. Salah satunya yang berkaitan dengan seks.

Tampaknya, budaya tradisional Jepang menganggap seks sebagai sesuatu yang luhur. Meskipun tidak seterbuka orang barat dalam urusan seks, hubungan badan dianggap sebagai bentuk prokreasi dan lambang kesuburan.

Dari sekian banyak tradisi kuno Jepang, berikut ini beberapa di antaranya yang berkaitan erat dengan seks.


2. Kuil payudara

Jepang punya beberapa kuil yang menyembah payudara wanita. Dua di antaranya adalah Ryuuon Ji atau lebih dikenal dengan nama Mama Kannon di Aichi dan Jison-in di Kudoyama, Wakayama. Di halaman kedua kuil ini terdapat banyak sekali patung, boneka, atau jimat berbentuk payudara wanita.

Payudara dikaitkan dengan Kannon, dewi welas asih dalam mitologi Jepang. Konon, memuja sang dewi di kuil payudara akan memberikan berkah berupa kelahiran yang mudah. Di Jison-in, para peziarah percaya kalau jimat payudara yang sudah diberkati dengan doa bisa membawa kesembuhan bagi para wanita yang sedang sakit. Ada pula remaja yang datang ke sana untuk meminta agar payudaranya tumbuh subur dengan bentuk yang indah. Ada-ada saja, ya?


3. Kanamara Matsuri

Kalau Komaki punya Honen Matsuri, Kawasaki punya Kanamara Matsuri. Secara harfiah, Kanamara Matsuri berarti 'dewa penis besi besar'. Festival ini dilangsungkan pada minggu pertama bulan April dan masih bertahan sejak abad 17.

Dalam festival ini, alat kelamin pria merupakan simbol perlawanan terhadap kekuatan jahat. Konon, dulu ada iblis yang bersembunyi di dalam vagina seorang gadis dan kemudian mengebiri kemaluan dua pria sekaligus. Lantas para gadis meminta bantuan pandai besi untuk membuatkan alat kelamin besi untuk mengusir setan.

Selama berlangsungnya Kanamara Matsuri, pengunjung bisa membeli berbagai pernak-pernik berbentuk alat kelamin pria, antara lain roti, permen, mainan, dan aksesoris.


4. Onda Matsuri

Dilansir Rocketnews24, Onda Matsuri atau secara harfiah diartikan sebagai 'festival sawah'. Festival diadakan pada minggu pertama bulan Februari. Ini adalah salah satu festival kesuburan tertua di Jepang. Pada saat perayaan berlangsung, diadakan ritual seks publik yang di kuil Asuka-ni-imasu. Ritual kesuburan ini dipercaya bisa membawa keberuntungan dalam perjodohan dan kehamilan.

Di kuil, kita bisa menemukan sepasang patung batu berbentuk alat kelamin pria dan wanita.


5. Konsei Matsuri

Konsei Matsuri adalah festival menunggang ukiran patung kelamin pria di Jepang. Pesertanya adalah para wanita yang ingin memiliki anak atau suami. Dirayakan setiap tahun pada 29 April di Osawa Hot Spring, Konsei Matsuri dipercaya dapat mendatangkan kehamilan bagi para peserta wanita, serta membuat mereka jadi enteng jodoh.

Para peserta wanita akan melakukan ritual pencucian patung kayu berbentuk penis dengan berat sekitar 150 kilogram dan panjang 1,4 meter. Kemudian, salah seorang peserta wanita yang beruntung akan ditunjuk untuk menunggangi patung tersebut.


6. Ososo Matsuri

Inuyama, Jepang memiliki festival shinto kuno yang dikenal dengan sebutan Ososo Matsuri, secara harfiah diartikan sebagai 'festival vagina'. Perayaan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk kesehatan wanita, tetapi juga untuk mensyukuri atas jumlah panen yang melimpah dan segala macam kemakmuran dan kesuburan.

Para warga setempat juga percaya bahwa dengan mengikuti perayaan unik ini, mereka dapat menyembuhkan kemandulan, impotensi, dan menjamin kesuksesan bisnis serta kesuburan di tahun-tahun berikutnya.


7. Geisha

Keberadaan geisha sebagai salah satu peninggalan tradisi kuno Jepang memang unik. Berawal dari wanita penghibur alias pekerja seks komersial biasa, profesi geisha berkembang menjadi penghibur kelas atas yang kadang disetarakan dengan seniman. Pasalnya, geisha memang menjalani pelatihan khusus selama bertahun-tahun dan wajib menguasai sejumlah cabang seni seperti tari, musik, dan sastra.

Jika biasanya pekerja seks dipandang negatif, tradisi geisha justru dibanggakan oleh orang Jepang. Hanya para wanita dengan bakat besar yang boleh menjalani pelatihan sebagai geisha. Sementara bagi para pelanggan pria, berhubungan dengan geisha merupakan sebuah gengsi. Pasalnya, geisha yang sangat sukses pun bisa pilih-pilih pelanggan. Dompet tebal saja tak menjamin seseorang bisa mendapatkan perhatian geisha, apalagi jika sampai bisa menjadikan simpanan.
Sumber: merdeka.com


Share on Google Plus

About Sekilas news

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment