Djarot: Masyarakat Bisa Nilai Titik Banjir di Jakarta Semakin Bertambah atau Menurun

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/2/2017).


JAKARTA, Sekilasnews.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat tak mempermasalahkan terjadinya peristiwa banjir saat dirinya maju dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

Djarot yang juga calon Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, masyarakat ibu kota dapat menilai kinerja dirinya bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

"Sehingga masyarakat bisa menilai apakah titik banjir dan genangan dari tahun ke tahun semakin menurun atau semakin meningkat," kata Djarot, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Djarot menyebut, berdasarkan hasil evaluasi, titik banjir semakin berkurang. Termasuk dengan lamanya banjir merendam pemukiman warga.

"Jadi sudah ada penurunan secara drastis. Titik banjir semakin berkurang drastis," kata Djarot.

Dia mengatakan, banjir yang merendam pada tahun 2017 ini merupakan siklus banjir lima tahunan. Mulai dari tahun 2002, 2007, 2012, hingga 2017. Hanya saja, Djarot meminta agar banjir tahun 2017 tidak dibandingkan dengan banjir yang merendam rumah warga pada tahun 2007 atau 2012.

"Bandingkan saja dengan banjir tahun 2015 atau tahun 2016, itu (titik banjir) sudah mulai sangat berkurang," kata Djarot.

Melalui peristiwa ini, Pemprov DKI Jakarta dapat melakukan evaluasi serta semakin gencar untuk melaksanakan normalisasi sungai, memasang dinding turap atau sheetpile.

Kemudian pengerukan sungai, pendalaman saluran-saluran penghubung, dan lain-lain. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, kasus banjir di Jakarta pada 2016 berkurang dibandingkan dengan 2015. (Baca: Video PHL Menyelam di Got Berair Hitam Saat Banjir Beredar di Medsos)

Berdasarkan catatan BPBD DKI Jakarta, pada periode Januari-Agustus 2016, ada 700 kasus banjir. Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2015, tercatat ada 889 kasus. Rinciannya, pada 2015, terjadi 221 kasus pada Januari, 613 kasus pada Februari, 30 kasus pada Maret, 18 kasus sepanjang April, serta 8 kasus sepanjang Mei.

Kemudian selama tiga bulan berikutnya, yakni Juni, Juni, dan Agustus 2015, tidak ada kasus banjir di Jakarta.

Sementara itu, pada 2016, selama Januari, ada 26 kasus banjir yang terjadi. Kemudian 231 kasus pada Februari, 93 kasus pada Maret, 134 kasus sepanjang April, 26 kasus pada Mei, 49 kasus sepanjang Juni, 59 kasus sepanjang Juli, dan 82 kasus pada Agustus. (Baca: Pantau Banjir di Kali Betik, Petugas PPSU Hanyut bersama Motornya)
Sumber: kompos.com


Share on Google Plus

About Sekilas news

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment